HUKUM MENGHADAP SUTROH BAGI YANG SHOLAT MUNFARID
ATAU MENJADI IMAM
---
Di Tulis oleh Abu Haitsam Fakhry
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
---
DAFTAR ISI:
- PENDAHULUAN
- MAKNA SUTRAH :
- HUKUM MENGHADAP SUTRAH BAGI IMAM SHOLAT DAN YANG MUNFARID :
- ADA DUA PENDAPAT HUKUM SUTROH :
- PENDAPAT PERTAMA : SUNNAH MUAKKADAH
- PENDAPAT KEDUA : WAJIB MENGHADAP SUTRAH :
- DALIL MASING-MASING PENDAPAT :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PENDAHULUAN
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ:
Dari Abu Sa’iid al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, bahwa
Rosulullah ﷺ bersabda
:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى
شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ
يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ
“Apabila seorang di antara kamu shalat dengan
memasang sutrah yang membatasinya dari orang-orang, lalu ada seseorang yang
ingin lewat di hadapannya, hendaknya ia mencegahnya. Bila ia tidak mau,
perangilah dia sebab sesungguhnya dia adalah setan “ [HR. Al-Bukhaariy no. 509
dan Muslim no. 505 ].
Dalam riwayat lain (Muslim) disebutkan :
فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ
“Sesungguhnya dia bersama al-qarin (setan)”.
====
MAKNA SUTRAH :
Sutrah merupakan tabir penghalang yang dipasang di
depan orang shalat .
Atau sesuatu yang dijadikan oleh orang yang shalat
berada di hadapannya bisa berupa kursi, atau tongkat atau dinding atau tempat
tidur atau yang lainnya untuk mencegah lewatnya seseorang dihadapannya .
Tidak ada perbedaan antara sutrah itu diambil dari
sesuatu yang bersifat permanen seperti dinding dan tiang atau tidak permanen,
menurut Imam Madzhab yang tiga namun tidak demikian halnya dengan madzhab
Syafi’i.” [Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib al-arba’ah 1/243]
===****===
HUKUM MENGHADAP SUTRAH BAGI IMAM SHOLAT DAN YANG MUNFARID :
***
ADA DUA PENDAPAT HUKUM SUTROH :
===
PENDAPAT PERTAMA : SUNNAH MUAKKADAH .
Fatwa Syeikh BIN BAAZ , beliau berkata :
الصَّلَاةُ إِلَى سُتْرَةٍ سُنَّةٌ
مُؤَكَّدَةٌ وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ شَيْئًا مَنْصُوبًا أَجْزَأَهُ
الخَطُّ
“ Sholat menghadap ke sutrah adalah sunnah
muakkadah dan tidak wajib . Jika dia tidak menemukan sesuatu yang dipancangkan,
maka cukup dengan garis “.
Referensi: Bagian dari pertanyaan yang ditujukan
kepada Syaikh bin Baaz, yang dicetak oleh Saudara Muhammad Al-Shaayi’ dalam
kitab “Majmu‘ Fatawa wa Maqalat al-Syaikh Ibn Baaz” 11/96-97).
Dalam “الموسوعة
الفقهية” di
sebutkan :
السُّترةُ بين يدَيِ المُصلِّي
إذا كان إمامًا أو منفرِدًا سنَّةٌ مؤكَّدةٌ، وذلك باتِّفاقِ المذاهبِ الفِقهيَّةِ
الأربعةِ: الحنفيَّةِ ، والمالكيَّةِ، والشافعيَّةِ، والحنابلةِ، وحُكِيَ الإجماعُ
على ذلك
Sutrah di hadapan orang sholat , jika dia seorang
imam atau sholat sendirian ( munfarid ) , adalah Sunnah muakkadah, menurut
kesepakatan empat mazhab fiqih : Hanafi (1), Maliki (2), Syafi'i ( 3) dan
Hanbali (4).
Lihat Referensi masing-masing madzhab empat :
(1) – Baca : ((Al-Durr Al-Mukhtar oleh Al-Hashkafii
dan Haashiyah Ibnu Abidin)) (1/637, 636), dan lihat: ((Al-Muhiith Al-Burhani))
oleh Ibn Maazah (1/432)
(2) – Baca : ((Al-Kaafii)) oleh Ibn Abd Al-Bar
(1/209), dan lihat: ((Bidaayat Al-Mujtahid)) oleh Ibn Rusyd (1/113), ((Sharh
Mukhtashar Khalil)) oleh Al-Khurosyi (1/278)
(3) – Baca : ((Al-Majmu’) oleh Al-Nawawi (3/247),
((Nihaayat Al-Muhtaaj)) oleh Al-Ramli (2/52).
(4) – Baca : ((Kasyaaf Al-Qinaa’)) oleh Al-Bahuutii
(1/382), dan lihat: ((Al-Mughni)) oleh Ibnu Quddaamah (2/174)
Bahkan banyak yang menukil adanya Ijma akan Sunnah
Muakkadah nya hukum Sutroh . Diantaranya adalah sbb :
Ibn Rusyd dari madzhab Maaliki berkata:
(وَاتَّفَقَ العُلَماءُ بِأَجْمَعِهِمْ عَلَى
اسْتِحْبَابِ السُّتْرَةِ بَيْنَ المصلِّي وَالقِبْلَةِ، إِذَا صَلَّى مُنْفَرِدًا
كَانَ أَوْ إِمَامًا)
(Para ulama sepakat tentang mustahabnya sutrah
antara orang yang sholat dan kiblat, baik dia sholat sendirian, maupun dia itu
seorang imam) . ((Baca : Bidaayat al-Mujtahid (1/113)).
Al-Nawawi dari Madzhab asy-Syaafi’ii berkata:
(السُّنَّةُ لِلْمُصَلِّي أَنْ يَكُونَ بَيْنَ
يَدَيْهِ سُتْرَةٌ مِن جِدَارٍ أَوْ سَارِيَةٍ أَوْ غَيْرِهِمَا، وَيَدْنُو مِنْهَا،
وَنَقَلَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ الإِجْمَاعَ فِيهِ)
(Sunnah bagi seorang yang sholat , didepannya ada
sutrah dari dinding atau tiang atau sesuatu yang lain, dan dia mendekatinya.
Dan Syekh Abu Hamid menukil Ijma para ulama tentang itu) . (( Baca : Al-Majmu'
3/247)).
Ibnu Quddaamah dari Madzhab Hanbali berkata:
"وَجُمْلَتُهُ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ
لِلْمُصَلِّي أَنْ يُصَلِّيَ إلَى سُتْرَةٍ، فَإِنْ كَانَ فِي مَسْجِدٍ أَوْ
بَيْتٍ صَلَّى إلَى الْحَائِطِ أَوْ سَارِيَةٍ، وَإِنْ كَانَ فِي فَضَاءٍ صَلَّى
إلَى شَيْءٍ شَاخِصٍ بَيْنَ يَدَيْهِ، أَوْ نَصَبَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَرْبَةً أَوْ
عَصًا، أَوْ عَرَضَ الْبَعِيرَ فَصَلَّى إلَيْهِ، أَوْ جَعَلَ رَحْلَهُ بَيْنَ
يَدَيْهِ. وَسُئِلَ أَحْمَدُ: يُصَلِّي الرَّاحِلُ إلَى سُتْرَةٍ فِي الْحَضَرِ
وَالسَّفَرِ؟ قَالَ: نَعَمْ، مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ . وَلَا نَعْلَمُ فِي
اسْتِحْبَابِ ذَلِكَ خِلَافًا ".
(Ringkasnya: dianjurkan / mustahabb bagi seorang
yang sholat untuk sholat menghadap kepada sutrah, dan jika dia berada di masjid
atau rumah, maka dia sholatlah menghadap ke dinding atau tiang.
Dan jika dia berada di tempat terbuka , maka dia
menghadap kepada sesuatu yang berdiri di depannya, atau meletakkan tombak atau
tongkat di depannya, atau melintangkan unta lalu sholat menghadap kepadanya,
atau pelana tunggangannya di depannya.
Imam Ahmad ditanya : “ Orang yang dalam perjalanan
apakah shalatnya menghadap sutrah , baik ketika masih di kampung halamannya
maupun dalam perjalanan ?
Dia menjawab : Ya, seperti sholat dibelakang pelana
tunggangannya . Dan kami tidak mengetahui akan adanya perbedaan pendapat akan
ke mustahabannya ). ((Baca : Al-Mughni 2/174).)
Burhanuddin Ibnu Muflih dari Madzhab Hanbali
berkata:
("وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُصَلِّيَ إِلَى سُتْرَةٍ"
مَعَ القُدْرَةِ عَلَيْهَا، بِغَيْرِ خِلَافٍ نَعْلَمُهُ)
“Dianjurkan / mustahab hukumnya seseorang sholat
menghadap sutrah” meskipun dia mampu melakukannya, dan tidak ada perbedaan
pendapat yang kami ketahui) . (Baca “al-Mubdi‘” (1/437)).
----
FATWA SYEIKH ‘ATHIYAAH SYAQR :
Syaikh ‘Athiyah Shaqr – mantan mufti Mesir-
mengatakan:
وَاسْتِحْبَابُ جَعْلِ السُّتْرَةِ
يَسْتَوِي فِيهِ خَشْيَةُ مُرُورِ أَحَدٍ وَعَدَمُ الخَشْيَةِ كَمَا قَالَ الشَّافِعِيَّةُ
وَالحَنَابِلَةُ، وَقَالَ الحَنَفِيَّةُ وَالمَالِكِيَّةُ: إِذَا أَمِنَ مُرُورَ أَحَدٍ
فَلَا يُسْتَحَبُّ؛ لِأَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: إِنَّ
النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى فِي فَضَاءٍ وَلَيْسَ بَيْنَ يَدَيْهِ شَيْءٌ. رَوَاهُ أَحْمَدُ
وَأَبُو دَاوُدَ، وَرَوَاهُ البَيْهَقِيُّ وَقَالَ: لَهُ شَاهِدٌ بِإِسْنَادٍ أَصَحَّ
مِنْ هَذَا عَنْ الفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ.
Dan disunahkan meletakkan sutrah, sama saja baik
keadaan khawatir adanya orang yang lewat atau tidak, sebagaimana yang dikatakan
kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah.
Sedangkan, Hanafiyah dan Malikiyah mengatakan:
“Jika telah aman dari orang yang lewat maka tidaklah disunahkan.”
Karena Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:
“Sesungguhnya Nabi Shalat di lapangan luas dan di hadapannya tidak ada
penghalang apa-apa.”
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan juga Al
Baihaqi, dan dia berkata: “Hadits ini memiliki syahid (saksi/penguat) dengan
sanad yang lebih shahih dari ini, dari jalur Al Fadhl bin Abbas.” (Fatawa Al
Azhar, 9/7)
----
FATWA SYEIKH IBNU UTSAIMIIN :
Beliau berkata :
السِّتْرَةُ لِلْمَأْمُومِ لَيْسَتْ
بِمَشْرُوعَةٍ؛ لِأَنَّ سِتْرَةَ الإِمَامِ سِتْرَةٌ لَهُ وَلِمَنْ مَعَهُ، وَأَمَّا
لِلْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ فَهِيَ مَشْرُوعَةٌ، فَيُسَنُّ أَنْ لَا يُصَلِّيَ إِلَّا
إِلَى سِتْرَةٍ؛ وَلَكِنَّهَا لَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ عَلَى القَوْلِ الرَّاجِحِ الَّذِي
عَلَيْهِ جُمْهُورُ أَهْلِ العِلْمِ لِحَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُصَلِّي فِي مِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ، وَكَانَ رَاكِبًا
عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ؛ أَيْ أُنْثَى، فَمَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ بَعْضُ الصَّفِّ، فَلَمْ
يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ أَحَدٌ، فَقَوْلُهُ: إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ، قَالَ بَعْضُ
أَهْلِ العِلْمِ: إِنَّمَا أَرَادَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِ السِّتْرَةِ؛
لِأَنَّ الغَالِبَ فِي عَهْدِ الرَّسُولِ ﷺ أَنَّ مِنًى لَيْسَ فِيهَا بِنَاءٌ، وَلِحَدِيثِ
أَبِي سَعِيدٍ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ
أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلْيَدْفَعْهُ، فَقَوْلُهُ: إِذَا صَلَّى
إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ، يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الصَّلَاةَ إِلَى السِّتْرَةِ لَيْسَتْ
بِلَازِمَةٍ، وَإِلَّا لَمَا احْتِيجَ إِلَى القَيْدِ، وَعَلَى هَذَا فَيَكُونُ الأَمْرُ
بِالسِّتْرَةِ أَمْرًا بِالنَّدْبِ، وَلَيْسَ بِالوُجُوبِ، هَذَا هُوَ القَوْلُ الرَّاجِحُ
فِي اتِّخَاذِ السِّتْرَةِ.
“Sutrah bagi makmum tidaklah disyariatkan, karena
sutrahnya imam adalah sutrah baginya juga, dan orang-orang di belakangnya.
Ada pun bagi Imam dan orang yang shalatnya
sendirian , maka itu disyariatkan, maka DI SUNNAH KAN agar jangan shalat
melainkan dengan adanya sutrah.
Tetapi hal itu TIDAK WAJIB berdasarkan pendapat
yang Raajih / kuat yang menjadi pegangan jumhur (mayoritas) ulama.
Sebagaimana hadits Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma,
bahwa Nabi ﷺ shalat
di Mina tanpa menghadap dinding. Sebagian ulama mengatakan, bahwa maksud Ibnu
Abbas Radhiallahu ‘Anhu adalah tanpa menghadap ke sutrah. Sebab, pada masa
Rasulullah ﷺ secara
umum kota Mina tidak memiliki bangunan.
Juga hadits Abu Said, “Jika salah seorang kalian
shalat maka hendaknya dia membuat penghalang dari manusia.” Maka, maksudnya
adalah seorang boleh mencegah orang yang di hadapannya.
Lalu sabdanya: “Jika shalat hendaknya membuat
penghalang” menunjukkan bahwa sesungguhnya shalat menghadap sutrah bukanlah
kelaziman, jika hal itu lazim kenapa pemakaiannya dikaitkan karena adanya
kebutuhan?
Oleh karena itu, masalah sutrah ini adalah sesuatu
yang sunah bukan wajib, inilah pendapat yang kuat dalam hal pemakaian sutrah.
(Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Fatawa
Nur ‘Alad Darb No. 840)
----
FATWA SYEIKH ABDULLAH AL-JIBRIN
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jabrain
Rahimahullah berkata :
وَأَمَّا السُّتْرَةُ الَّتِي هِيَ
الشَّاخِصُ أَمَامَ المُصَلِّي فَهِيَ سُنَّةٌ، وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ، وَذَلِكَ أَنْ
يُصَلِّيَ إِلَى سَارِيَةٍ أَوْ جِدَارٍ، أَوْ شَيْءٍ مُرْتَفِعٍ عَنِ الأَرْضِ كَسَرِيرٍ
أَوْ كُرْسِيٍّ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَخُطَّ خَطًّا كَالهِلَالِ، وَذَلِكَ فِي
حَقِّ الإِمَامِ وَالمُنْفَرِدِ، وَتَتَأَكَّدُ فِي الصَّحْرَاءِ كَمُصَلِّي العِيدِ،
وَفِي السَّفَرِ، فَأَمَّا فِي المَسَاجِدِ فَالأَصْلُ عَدَمُ الحَاجَةِ، وَالاِكْتِفَاءُ
بِحِيطَانٍ مُمتَدَّةٍ فِي الصُّفُوفِ، أَوْ يُكْتَفَى بِطَرَفِ السَّجَّادَةِ الَّتِي
يُصَلِّي عَلَيْهَا، وَلَيْسَ هُنَاكَ مَا يَدُلُّ عَلَى الوُجُوبِ، وَقَدْ وَرَدَ
الحَدِيثُ الَّذِي فِي السُّنَنِ بِلَفْظِ: «إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ
فَلْيَدْنُ مِنْهَا»، وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ: «إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ
يَسْتُرُهُ فَلَا يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ،
فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ»، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
“Ada pun sutrah yaitu suatu pembatas di depan orang
shalat itu adalah SUNNAH, BUKAN KEWAJIBAN .
Hal itu dengan cara shalat menghadap tiang atau
dinding, atau sesuatu yang tinggi dari permukaan bumi, seperti kasur dan kursi.
Jika tidak ada, maka hendaknya dia membuat garis
seperi bulan sabit. Hal ini merupakan hak imam dan shalat sendiri, dan lebih
ditekankan lagi ketika shalat di lapangan luas seperti lapangan ketika shalat
hari raya dan dalam perjalanan.
Ada pun di masjid, pada dasarnya tidaklah diperlukan.
Telah mencukupi dinding yang tersusun di barisan atau ujung sajadah tempat dia
shalat.
Tidak ada dalil yang menunjukkan kewajibannya.
Telah datang riwayat dalam kitab Sunan dengan
lafaz: “Jika salah seorang kalian shalat menghadap sutrah, maka hendaknya
mendekatinya.”
Dalam hadits lain: “Jika salah seorang kalian
shalat menghadap sesuatu yang menghalanginya, maka jangan biarkan seorang pun
melewati di depannya, jika dia menolak maka bunuhlah sesungguhnya dia itu
syetan.” Wallahu A’lam
(Fatawa Ibnu Jibrin, 13/32)
----
FATWA PARA ULAMA KUWAIT :
Mereka mengatakan:
وَأَمَّا السُّتْرَةُ الَّتِي هِيَ
الشَّاخِصُ أَمَامَ المُصَلِّي فَهِيَ سُنَّةٌ، وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ، وَذَلِكَ أَنْ
يُصَلِّيَ إِلَى سَارِيَةٍ أَوْ جِدَارٍ، أَوْ شَيْءٍ مُرْتَفِعٍ عَنِ الأَرْضِ كَسَرِيرٍ
أَوْ كُرْسِيٍّ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَخُطَّ خَطًّا كَالهِلَالِ، وَذَلِكَ فِي
حَقِّ الإِمَامِ وَالمُنْفَرِدِ، وَتَتَأَكَّدُ فِي الصَّحْرَاءِ كَمُصَلِّي العِيدِ،
وَفِي السَّفَرِ، فَأَمَّا فِي المَسَاجِدِ فَالأَصْلُ عَدَمُ الحَاجَةِ، وَالاِكْتِفَاءُ
بِحِيطَانٍ مُمتَدَّةٍ فِي الصُّفُوفِ، أَوْ يُكْتَفَى بِطَرَفِ السَّجَّادَةِ الَّتِي
يُصَلِّي عَلَيْهَا، وَلَيْسَ هُنَاكَ مَا يَدُلُّ عَلَى الوُجُوبِ، وَقَدْ وَرَدَ
الحَدِيثُ الَّذِي فِي السُّنَنِ بِلَفْظِ: «إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ
فَلْيَدْنُ مِنْهَا»، وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ: «إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ
يَسْتُرُهُ فَلَا يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ،
فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ»، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Disunahkan bagi orang shalat agar shalat menghadap
sutrah. Dan yang utamanya adalah tidak memaksudkannya untuk menghadapnya,
bahkan hendaknya menjadikannya sebagai penghalang dari menengok ke kanan atau
kiri.
Sutrah bukanlah syarat, maka jika shalat tanpa
sutrah tidaklah mengapa. Sebagaimana yang dikeluarkan oleh Bukhari dari
Abdullah bin Abbas, bahwa dia berkata:
“Aku datang dengan mengendarai keledai betina, saat
itu aku telah bersih-bersih dari mimpi basah dan Rasulullah ﷺ shalat di Mina, maka aku lewat di depan shaf lalu
aku turun dari kendaraan keledai betina, lalu aku masuk ke shaf dan tak ada
satu pun yang mengingkari perbuatan itu.”
Asy Syafi’i berkata :
Sesungguhnya maksud ucapan Ibnu Abbas: “Tidak
menghadap tembok” adalah tidak menghadap ke sutrah. Jika shalat di masjid atau
di rumah maka shalat menghadap dinding atau tiang. Jika shalatnya di tanah
lapang, shalat menghadap sesuatu benda di hadapannya, atau menegakkan
dihadapannya tombak atau tongkat.
Dan sutrahnya imam adalah juga sutrah orang di
belakangnya, karena ketika Nabi ﷺ shalat
menghadap sutrah, beliau tidak memerintahkan para sahabatnya untuk membuat
sutrah lainnya.
Dan juga disunahkan bagi orang shalat untuk
mendekati sutrahnya, karena yang demikian itu dapat menghindarkan orang yang
lewat antara dirinya dan sutrah. Wallahu A’lam
(Fatawa Qutha’ Al Ifta bil Kuwait, 4/27. Cet. 1.
1996M-1417H. Wizarah Al Awqaf wasy Syu’un Al Islamiyah)
FATWA “دائرة
الشئون الإسلامية والعمل الخيري” Arsip
No. 55944 , Pemerintah Dubai :
اِتِّخَاذُ السُّتْرَةِ لِلْإِمَامِ
وَالْمُنْفَرِدِ سُنَّةٌ عِنْدَ جُمْهُورِ الفُقَهَاءِ وَهُوَ المُعْتَمَدُ، وَقَالَ
بَعْضُهُمْ بِوُجُوبِهَا. وَأَمَّا المَأْمُومُ فَسِتْرَةُ الإِمَامِ سِتْرَةٌ لَهُ.
“Mengambil sutrah untuk sholat sebagai imam dan sholat
munfarid adalah SUNNAH menurut Jumhur Ulama, dan itu adalah yang MU’TAMAD . Dan
beberapa dari mereka mengatakan bahwa itu wajib. Adapun Makmum, maka sutrah
imam adalah sutrahnya”.
****
PENDAPAT KEDUA : WAJIB MENGHADAP SUTRAH :
Ini adalah pendapat Asy-Syaukaani (lihat: “Nailul
Authar” 3/2 dan “as-Sail al-Jarrar” 1/176)
Dan pendapat Syaikh al-Albaani (lihat: “Tamaamul
Minnah” hal. 300 dan “Sifat Shalat an-Nabi”) dan Syaikh Muqbil al-Waadi’i
(baca: “Tuhfatul Mujib” hal. 139).
Dan yang nampak dari perkataan Ibnu Hazem dalam
“al-Muhalla” 4/8-15.
Mereka mengatakan wajib hukumnya sholat menghadap
sutrah , baik bagi orang yang shalat sendirian (munfarid) maupun bagi imam pada
shalat jama’ah .
Sementara itu, Imam Malik membedakan antara orang
safar dan mukim. Berikut ini ucapannya:
وَقَالَ مَالِكٌ : وَمَنْ كَانَ
فِي سَفَرٍ فَلَا بَأْسَ أَنْ يُصَلِّيَ إلَى غَيْرِ سُتْرَةٍ وَأَمَّا فِي
الْحَضَرِ فَلَا يُصَلِّي إلَّا إلَى سُتْرَةٍ
“Malik berkata: “barang siapa dalam perjalanan maka
tidak mengapa shalat dengan tanpa sutrah, ada pun ketika mukim maka janganlah
shalat kecuali dengan sutrah.” (Al Mudawwanah, 1/289. Mawqi’ Al Islam)
===***===
DALIL MASING-MASING PENDAPAT :
****
DALIL PENDAPAT PERTAMA : SUTRAH ADALAH SUNNAH MUAKKADAH
====
DALIL KE 1 :
Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa
dia berkata :
((
أقبَلْتُ راكبًا على حمارٍ أتَانٍ، وأنا يومَئذٍ قد
ناهَزْتُ الاحتلامَ، ورسولُ اللهِ ﷺ يُصلِّي بمِنًى إلى غيِر جِدارٍ، فمرَرْتُ بين
يدَيْ بعضِ الصَّفِّ، وأرسَلْتُ الأتَانَ ترتَعُ، فدخَلْتُ في الصَّفِّ، فلم
يُنكَرْ ذلك علَيَّ )).
"Pada suatu hari aku datang sambil menunggang
keledai betina dan pada saat itu usiaku hampir baligh. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang shalat bersama orang banyak di Mina tanpa
ada dinding (tabir) di hadapannya. Maka aku lewat didepan sebagian shaf, aku
lantas turun dan aku biarkan keledaiku mencari makan. Kemudian aku masuk ke
barisan shaf dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya terhadap ku . ( HR.
Bukhori no. 76 dan Muslim no. 504 ) .
Perkataan : “يُصلِّي
بمِنًى إلى غيِر جِدارٍ artinya
: bahwa Rosulullah ﷺ sholat di
Mina tanpa ada dinding (tabir) di hadapannya “ ini menunjukkan bahwa Imam boleh
sholat tanpa menghadap ke sutroh . ( Baca Syarah Shahih Bukhori karya Ibnu
Baththool 1/162 ).
DALIL KE 2 :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu :
أَنَّهُ كَانَ عَلَى حِمَارٍ
هُوَ وَغُلَامٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَمَرَّ بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ
يُصَلِّي فَلَمْ يَنْصَرِفْ وَجَاءَتْ جَارِيَتَانِ مِنْ بَنِي عَبْدِ
الْمُطَّلِبِ فَأَخَذَتَا بِرُكْبَتَيْ النَّبِيِّ ﷺ فَفَرَّعَ بَيْنَهُمَا أَوْ
فَرَّقَ بَيْنَهُمَا وَلَمْ يَنْصَرِفْ
Bahwa ia menunggang keledai bersama seorang anak
dari bani Hasyim lewat di depan Nabi ﷺ yang
sedang shalat, namun beliau tidak bergeming (dari shalatnya). Lalu datang dua
anak perempuan dari bani Abdul Muththalib, keduanya memegangi kedua lutut Nabi
SAW, lalu beliau memisahkan keduanya dan beliau juga tidak bergeming (dari
shalatnya).
(HR. Ahmad no. 2295 , 3001 , an-Nasaa’i no. 746 ,
Abu Daud no. 716 ) Dishahihkan sanadnya oleh Syu’aib al-Arna’uth dlm “تخريج المسند” no. 2295 .
Dari Ibnu “Abbaas :
كَانَ الفَضْلُ أَكْبَرَ مِنِّي،
فَكَانَ يُرْدِفُنِي، فَأَكُونُ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَارْتَدَفْتُ أَنَا وَأَخِي عَلَى
حِمَارَةٍ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ بِعَرَفَةَ،
فَنَزَلْنَا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَصَلَّيْنَا، وَتَرَكْنَاهُ يَرْعَى بَيْنَ يَدَيْهِ،
فَلَمْ يَقْطَعْ صَلَاتَهُ.
Al-Fadhel lebih besar dari saya, jadi dia selalu
memboncengkan saya , maka saya pun duduk di depannya, lalu saya dan saudara
saya mengayuh keledai, hingga kami sampai kepada Nabi, ﷺ dan
Beliau sedang shalat dengan orang-orang di Arafah, maka kami turun di
hadapannya , lalu kami pun ikut shalat, dan kami meninggalkan keledai merumput
didepannya, dan beliau tidak menghentikan shalatnya.” ( HR. Thabrani dalam
al-Mu’jam al-Kabiir no. 2639 )
Imam Thabrani berkata :
لَمْ يَرْوِهِ عَنِ الحَكَمِ، عَنْ
مُجَاهِدٍ، إِلَّا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُسْلِمٍ
Tidak ada yang meriwayatkan dari al-Hakam , dari
Mujahid , kecuali Isma’il bin Muslim “.
Dan masih dari Ibnu ‘Abbaas :
«رُبَّمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي، وَالحُمُرُ
تَعْتَرِكُ بَيْنَ يَدَيْهِ».
“ Terkadang aku melihat Nabi ﷺ sedang sholat , dan keledai bertarung di
hadapannya” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsaath no. 2699 )
Dan Thabrani berkata:
لَا نَعْلَمُهُ يُرْوَى إِلَّا عَنْ
ابْنِ عَبَّاسٍ، وَرُوِيَ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ بِأَلْفَاظٍ مُخْتَلِفَةٍ
Kami tidak tahu hadits ini diriwayatkan kecuali
dari Ibnu Abbas . Dan hadits ini diriwayatkan pula dari dia lewat jalur lain
dengan kata-kata yang berbeda-beda .
DALIL KE 3 :
Dari Al-‘Abbaas radhiyallahu ‘anhu , dia berkata :
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ
طَافَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ بِحِذَائِهِ فِي حَاشِيَةِ
الْمَقَامِ وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الطُّوَّافِ أَحَدٌ
“Saya melihat Rasulullah ﷺ berthawaf
mengelilingi Baitullah tujuh kali, kemudian beliau ﷺ shalat
dua rakaat dengan memakai sepatunya di tepian Maqam, dan tidak ada apa-apa
antara dia dan orang-orang yang melakukan Tawaf.”
Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasaa’i no. 750 ,
Ahmad (6/399), dan lafadz tsb baginya , dan oleh Abu Dawud (1/315) dan
Al-Azraaqi dalam “Akhbaar Makkah” (hal. 305) dan Al-Bayhaqi dalam “Sunan Al
-Kubra” (1/273) dari Sufyan bin Uyaynah yang berkata: telah memberitahu kami
Kathir bin Kathir bin Al-Muththalib bin Abi Wadaa’ah bahwa dia mendengar
sebagian keluarganya menceritakan dari kakeknya hadits tsb .
Syeikh al-Albaani berkata :
وَهَذَا سَنَدٌ ضَعِيفٌ لِجَهَالَةِ
الوَاسِطَةِ بَيْنَ كَثِيرٍ وَجَدِّهِ. وَفِيهِ عِلَّةٌ أُخْرَى وَهِيَ الِاخْتِلَافُ
فِي إِسْنَادِهِ.
“Ini adalah sanad yang lemah karena ketidak jelasan
perantara antara Katsir dan kakeknya. Dan ada illat lain, yaitu adanya
perbedaan dalam sanadnya”. ( Baca : “as-Silsilah ad-Dha’iifah” no. 928
DALIL KE 4 :
Katsir bin Katsir bin Al Mutthalib bin Abu Wada'ah
dari orang yang pernah mendengar kakeknya (al-Muththolib bin Abi Wadaa'ah) dia
berkata :
رأيتُ رسولَ اللهِ ﷺ يصلي مما
يَلِي بابَ بني سَهْمٍ، والناسُ يَمُرُّونَ بين يديه، ليس بينَه وبينَ الكعبةِ
سُتْرَةٌ
"Saya melihat Nabi ﷺ sholat
di depan pintu Bani Sahm, dan orang-orang lewat di depannya, dan tidak ada
sutrah antara dia dan tempat tawaf “
(HR. Ahmad no. 25982 . di dhaifkan al-Albaani dlm
“adh-dha’iifah” no. 928 dan Syu’aib al-Arna’uth dlm Takhriij al-Musnad no.
27242)
DALIL KE 5 :
Dari Al-Fadhl bin Abbas berkata :
أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
وَنَحْنُ فِي بَادِيَةٍ لَنَا وَمَعَهُ عَبَّاسٌ فَصَلَّى فِي صَحْرَاءَ لَيْسَ
بَيْنَ يَدَيْهِ سُتْرَةٌ وَحِمَارَةٌ لَنَا وَكَلْبَةٌ تَعْبَثَانِ بَيْنَ
يَدَيْهِ فَمَا بَالَى ذَلِكَ .
Bahwa Rasulullah (ﷺ) datang kepada kami ditemani oleh Abbas
ketika kami berada di tanah terbuka milik kami. Lalu Beliau shalat di padang
pasir TANPA SUTRAH di depannya, dan keledai betina kami dan anjing betina kami
bermain-main di hadapannya, tetapi beliau ﷺ tidak
menghiraukan hal itu. ( HR. Ahmad no. Abu Daud no. 718) Di Dhaifkan oleh Syeikh
al-Albaani dlm Misykaatul Mashoobiih no. 784 )
Syu’aib al-Arna’uuth berkata dlm Takhriij al-Musnad
13/363 :
وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ، فَعَبَّاسُ
بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ لَا يُعْرَفُ حَالُهُ، وَانْفَرَدَ ابْنُ حِبَّانَ بِتَوْثِيقِهِ،
وَهُوَ لَمْ يُدْرِكْ عَمَّهُ الفَضْلَ. وَرُوِيَ مَرْفُوعًا: «وَلَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ
شَيْءٌ» عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، وَلَا يَصِحُّ مِنْهَا شَيْءٌ.
وَرُوِيَ مَوْقُوفًا عَنْ عَلِيٍّ
وَعُثْمَانَ وَابْنِ عُمَرَ وَغَيْرِهِمْ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ. اُنْظُرْ: سُنَنُ
الدَّارَقُطْنِيِّ 1/367، 368، 369، وَالعِلَلُ لِابْنِ الجَوْزِيِّ 1/445–446.
Dan sanadnya lemah, karena Abbas bin Ubaidullah
tidak diketahui kondisinya, dan hanya Ibnu Hibban yang mentautsiqnya, dan dia
tidak menjumpai masa hidup pamannya Al-Fadl.
Dan itu diriwayatkan secara marfu’ ( yakni dari
Nabi ﷺ ) hadits :
وَلَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ شَيْءٌ
“ dan tidak ada sesuatu apapun yang memutuskan
sholat “ , lebih dari satu sahabat, dan dari itu semua tidak ada yang Shahih .
Itu diriwayatkan secara mauquuf dari Ali, Utsman,
Ibn Umar dan lainnya dengan dengan sanad-sanad yang SHAHIH . Lihat: Sunan al-Daraqutni
1/367, 368, 369, dan al-Illal oleh Ibn al-Jawzi 1/445-446.
Al-Khoththoobi berkata :
فِي سَنَدِهِ مَقَالٌ، وَضَعَّفَهُ
أَيْضًا غَيْرُ وَاحِدٍ؛ مِنْهُمْ: الإِشْبِيلِيُّ، وَابْنُ القَطَّانِ. وَعِنْدَ الدَّارَقُطْنِيِّ:
«فَصَلَّى لَنَا العَصْرَ، فَمَا بَالَى بِهِمَا، وَلَا رَدَّهُمَا».
Dalam sanadnya ada yang dibicarakan , dan juga
lebih dari satu orang yang mendhaifkannya. Diantaranya : Al-Isybiili, Ibnu
Al-Qaththan. Dan dalam lafadz Al-Daraquthni :
“Beliau shalat Ashar untuk kami, dan dia tidak
mempedulikan kedua-duanya ( keledai dan anjing di depannya ) , juga tidak
mengusir dua-duanya ”. (Sunan al-Daraqutni 1/369)
( Di Kutip dari kitab Syarah Sunan Ibnu Majah karya
‘Alaa uddin Mughlathoy hal. 1605 )
DALIL KE 6 :
Penafsiran hadits Sutrah .
Syeikh Ibnu Utsaimin berkata :
Sebagaimana hadits Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma,
bahwa Nabi ﷺ shalat
di Mina tanpa menghadap dinding. Sebagian ulama mengatakan : bahwa maksud Ibnu
Abbas Radhiallahu ‘Anhu adalah tanpa menghadap ke sutrah. Sebab, pada masa
Rasulullah ﷺ secara
umum kota Mina tidak memiliki bangunan.
Juga hadits Abu Said : “Jika salah seorang kalian
shalat maka hendaknya dia membuat sutrah (penghalang dari manusia).”
Maka, maksudnya adalah seorang boleh mencegah orang
yang di hadapannya.
Lalu sabdanya : “Jika shalat hendaknya membuat
penghalang” menunjukkan bahwa sesungguhnya shalat menghadap sutrah bukanlah
kelaziman, jika hal itu lazim kenapa pemakaiannya dikaitkan karena adanya
kebutuhan?
Oleh karena itu, masalah sutrah ini adalah sesuatu
yang sunah bukan wajib, inilah pendapat yang kuat dalam hal pemakaian sutrah. (
Lihat : Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Fatawa Nur ‘Alad Darb No. 840)
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jabrain
Rahimahullah berkata :
Tidak ada dalil yang menunjukkan kewajibannya.
Telah datang riwayat dalam kitab Sunan dengan lafaz:
“Jika salah seorang kalian shalat menghadap sutrah, maka hendaknya
mendekatinya.”
Dalam hadits lain: “Jika salah seorang kalian
shalat menghadap sesuatu yang menghalanginya, maka jangan biarkan seorang pun
melewati di depannya, jika dia menolak maka bunuhlah sesungguhnya dia itu
syetan.” Wallahu A’lam
(Fatawa Ibnu Jabrain, 13/32)
DALIL KE 7 :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu :
أَنَّهُ كَانَ عَلَى حِمَارٍ
هُوَ وَغُلَامٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَمَرَّ بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ يُصَلِّي
فَلَمْ يَنْصَرِفْ وَجَاءَتْ جَارِيَتَانِ مِنْ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
فَأَخَذَتَا بِرُكْبَتَيْ النَّبِيِّ ﷺ فَفَرَّعَ بَيْنَهُمَا أَوْ فَرَّقَ
بَيْنَهُمَا وَلَمْ يَنْصَرِفْ
Bahwa ia menunggang keledai bersama seorang anak
laki-laki dari bani Hasyim , lalu lewat di depan Nabi ﷺ yang
sedang shalat, namun beliau tidak bergeming (dari shalatnya). Lalu datang dua
anak perempuan dari bani Abdul Muththalib, keduanya memegangi kedua lutut Nabi
SAW, lalu beliau memisahkan keduanya dan beliau juga tidak bergeming (dari
shalatnya).
(HR. Ahmad no. 2295 , 3001 , an-Nasaa’i no. 746 ,
Abu Daud no. 716 ) Dishahihkan sanadnya oleh Syu’aib al-Arna’uth dlm “تخريج المسند” no. 2295 .
DALIL KE 8 :
Dari Abu As Shohbaa`, Shuhaib Al-Bakry , dia mawlaa
Ibnu ‘Abbaas , dia berkata ;
«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَجَاءَتْ
جَارِيَتَانِ مِنْ بَنِي عَبْدِ المُطَّلِبِ، اقْتَتَلَتَا، فَفَرَعَ النَّبِيُّ ﷺ
بَيْنَهُمَا، ثُمَّ مَا بَالَى ذَلِكَ».
Nabi ﷺ sedang
shalat dengan orang-orang, lalu datanglah dua anak perempuan dari Bani Abd
al-Muttalib dan mereka bertikai satu sama lain, lalu Nabi ﷺ beliau melerai keduanya , dan beliau tidak
memperdulikan hal itu." ( HR. Ibnu Khuzaimah dlm Shahihnya no. 836 )
Dalam riwayat Abu Daud dlm Sunannya dari Abu As
Shahba berkata `:
تَذَاكَرْنَا مَا يَقْطَعُ
الصَّلَاةَ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ جِئْتُ أَنَا وَغُلَامٌ مِنْ بَنِي
عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَلَى حِمَارٍ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي فَنَزَلَ
وَنَزَلْتُ وَتَرَكْنَا الْحِمَارَ أَمَامَ الصَّفِّ فَمَا بَالَاهُ وَجَاءَتْ
جَارِيَتَانِ مِنْ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَدَخَلَتَا بَيْنَ الصَّفِّ فَمَا
بَالَى ذَلِكَ
"Kami membicarakan mengenai sesuatu yang dapat
memutuskan shalat di samping Ibnu Abbas, maka Ibnu Abbas berkata ;
"Aku pernah datang bersama seorang anak
laki-laki dari Bani Abdul Mutthalib dengan mengendarai seekor keledai, dan
Rasulullah ﷺ sedang melaksanakan shalat, maka anak laki-laki itu
turun, aku pun ikut turun lalu aku biarkan keledai tersebut di depan shaff,
namun beliau ﷺ tidak
menghiraukannya.
Setelah itu datang pula dua anak perempuan dari
Bani Abdul Mutthalib, lalu keduanya masuk ke dalam shaff, namun beliau tetap
tidak menghiraukannya."
Lalu Abu Daud berkata :
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ
أَبِي شَيْبَةَ وَدَاوُدُ بْنُ مِخْرَاقٍ الْفِرْيَابِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا
جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ بِإِسْنَادِهِ قَالَ فَجَاءَتْ
جَارِيَتَانِ مِنْ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ اقْتَتَلَتَا فَأَخَذَهُمَا قَالَ عُثْمَانُ
فَفَرَّعَ بَيْنَهُمَا
وَقَالَ دَاوُدُ : فَنَزَعَ إِحْدَاهُمَا عَنْ
الْأُخْرَى فَمَا بَالَى ذَلِكَ
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu
Syaibah dan Daud bin Mikhraq Al Firyabi keduanya berkata; telah menceritakan
kepada kami Jarir dari Manshur dengan hadits ini dengan isnadnya dia
mengatakan;
"Kemudian datang pula dua anak perempuan dari
Bani Abdul Mutthalib yang sedang bertikai, maka beliau ﷺ memegang
keduanya."
Utsman mengatakan ; "Kemudian beliau ﷺ melerai keduanya."
Sedangkan Daud mengatakan ; "Lalu beliau ﷺ melerai salah satu dari keduanya, dan beliau tidak
memperdulikan hal itu."
( HR. Abu Daud no. 717 , Ahmad no. 2804 , Ibnu
Khuzaimah no. 882 dan Abu Ya’la no. 2749. Di shahihkan oleh ‘Allaa uddin
Mughlathooy dlm Syarah Sunan Ibnu Majah 3/569 dan oleh Syeikh al-Albaani dlm
Shahih Abu Daud no. 716 ).
DALIL KE 9 :
Diriwayatkan dari hadits Umar bin Abdulaziz, dari
Anas radhiyallahu ‘anhu :
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى بِالنَّاسِ،
فَمَرَّ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ حِمَارٌ، فَقَالَ عَيَّاشُ بْنُ أَبِي زَمْعَةَ: سُبْحَانَ
اللَّهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ، فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَنِ المُسَبِّحُ
آنِفًا؟»، قَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي سَمِعْتُ أَنَّ الحِمَارَ يَقْطَعُ
الصَّلَاةَ، فَقَالَ: «لَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ شَيْءٌ».
“ Bahwa Nabi ﷺ mengimami
sholat bersama orang-orang , dan ada seekor keledai lewat di depan mereka. Maka
‘Ayyaasy bin Abi Zam’ah berkata : Subhaanallooh , Subhaanallooh .
Ketika Rasulullah ﷺ mengucapkan
salam , beliau bertanya : “ Siapakah yang bertasbih barusan ?” .
‘Ayyaasy menjawab : Aku, ya Rasulullah, aku mendengar bahwa
keledai itu memutuskan shalat, maka beliau ﷺ berkata:
((Tidak ada sesuatu apapun yang memutuskan shalat )).
Al-Khoththoobi berkata :
اخْتُلِفَ فِي إِسْنَادِهِ، وَالصَّوَابُ:
عَنْ عُمَرَ مُرْسَلٌ،
“ Hadits ini berbeda-beda dalam sanadnya, dan yang
benar adalah dari Umar secara Mursal”.
( Penulis katakan : Hadits tsb di riwayatkan oleh
al-Baihaqi no. 278 , 279 , ath-Thabrani 8/193 dan Ibnu Abi Syaibah 1/280 . Di
sebutkan pula dlm : at-Tamhiid 4/190 , Nashbur Rooyah 2/76 , Kanzul ‘Ummaal no.
19219 , Musnad Abi ‘Awaanah 20/46 dan al-‘ilal mutanaahiyah 1/449 ).
DALIL KE 10 :
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu :
كُنْتُ أنَامُ بيْنَ يَدَيْ
رَسولِ اللَّهِ ﷺ ورِجْلَايَ، في قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي، فَقَبَضْتُ
رِجْلَيَّ، فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا، قالَتْ: والبُيُوتُ يَومَئذٍ ليسَ فِيهَا
مَصَابِيحُ.
"Saya pernah tidur melintang di hadapan
Rasulullah ﷺ dan kedua kakiku tepat di kiblat beliau. Jika
beliau hendak sujud, maka beliau meraba kakiku dan aku pun menarik kedua
kakiku. Dan ketika berdiri, maka akupun meluruskan keduanya. Saat itu tidak ada
lampu di rumah”. ( HR. Bikhori no. 382 dan Muslim no. 512 ).
Masih dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu , berkata :
"
بِئْسَمَا عَدَلْتُمُونَا بِالْحِمَارِ وَالْكَلْبِ
لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ يُصَلِّي وَأَنَا مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ
فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْجُدَ غَمَزَ رِجْلِي فَضَمَمْتُهَا إِلَيَّ ثُمَّ
يَسْجُدُ ".
“Alangkah jeleknya kalian yang menyetarakan kami
dengan keledai dan anjing, sungguh aku telah melihat Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat sedangkan saya melintang antara
diri beliau dengan kiblat, apabila beliau hendak sujud, beliau meraba kakiku,
sebab itu aku menarik kakiku lalu beliau sujud." ( HR. Abu Daud no. 612 .
Dan di shahihkan oleh Syeikh al-Albaani dlm shahih Sunan Abi Daud no. 712 )
Perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu dlm hadits ini
mengisyaratkan kepada Hadist riwayat Imam Muslim sbb :
“Dari Abu Dzarr al-Ghifaari dia berkata ;
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا قامَ أحَدُكُمْ يُصَلِّي،
فإنَّه يَسْتُرُهُ إذا كانَ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ، فإذا لَمْ
يَكُنْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ، فإنَّه يَقْطَعُ صَلاتَهُ
الحِمارُ، والْمَرْأَةُ، والْكَلْبُ الأسْوَدُ.
قُلتُ: يا أبا ذَرٍّ، ما بالُ
الكَلْبِ الأسْوَدِ مِنَ الكَلْبِ الأحْمَرِ مِنَ الكَلْبِ الأصْفَرِ؟ قالَ: يا
ابْنَ أخِي، سَأَلْتُ رَسولَ اللهِ ﷺ كما سَأَلْتَنِي فقالَ: الكَلْبُ الأسْوَدُ
شيطانٌ.
"Apabila salah seorang dari kalian hendak
shalat, sebaiknya kamu membuat sutrah (penghalang) di hadapannya yang berbentuk
seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, apabila di hadapannya
tidak ada sutrah seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, maka
shalatnya akan terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam.'
Aku bertanya, 'Wahai Abu Dzarr : “ apa perbedaan
anjing hitam dari anjing merah dan kuning?”.
Dia menjawab : 'Aku pernah pula menanyakan hal itu
kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana
kamu menanyakannya kepadaku, maka jawab beliau, 'Anjing hitam itu
setan'."(HR. Muslim no. 510 )
DALIL KE 11 :
Dan ath-Thahawi berkata :
رُوِيَ ذَلِكَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ
مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ، وَأُمِّ سَلَمَةَ، وَمَيْمُونَةَ: «أَنَّهُ
ﷺ كَانَ يُصَلِّي، وَكُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ القِبْلَةِ»،
وَكُلُّهَا ثَابِتَةٌ.
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ dari
arah lain dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anhu, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhu,
dan Maymuunah radhiyallahu ‘anhu : “ Bahwasannya Beliau ﷺ sholat , dan masing-masing dari mereka melintang di
antara beliau ﷺ dan
kiblat.” Semua riwayatnya tsaabitah ( Shahih ) . ( Baca : “Syarh Ma’ani
al-Atsar” 1/461–463 )
****
DALIL PENDAPAT KEDUA : SHOLAT MENGHADAP SUTRAH ITU WAJIB .
===
DALIL KE 1 :
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu , bahwa
Nabi ﷺ bersabda :
"لَا
تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ،
فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ".
“Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah,
dan jangan kamu biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia membangkang maka
perangilah ia, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan)”
(HR. Ibnu Khuzaimah no. 800, 820, 841 dan Ibnu
Hibbaan no. 2362 . Syeikh al-Albani dalam “Shifat ash-Shalah” (82) mengatakan
bahwa “ sanadnya jayyid” dan menshahihkannya dalam “at-Ta’liqat al-Hisan” no.
2356. Dan dishahihkan pula oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam “Takhrij Shahih Ibn
Hibban” no. 2362.
DALIL KE 2 :
Dari Abu Sa’iid al-Khudry radhiyallahu ‘anhu ,
bahwa Rosulullah ﷺ bersabda
:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى
شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ
يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ
“Apabila seorang di antara kamu shalat dengan
memasang sutrah yang membatasinya dari orang-orang, lalu ada seseorang yang
ingin lewat di hadapannya, hendaknya ia mencegahnya. Bila ia tidak mau,
perangilah dia sebab sesungguhnya dia adalah setan “ [HR. Al-Bukhaariy no. 509
dan Muslim no. 505 ].
Dan dalam riwayat lain dari Abu Sa’iid al-Khudry ,
bahwa Rosulullah ﷺ bersabda
:
"إِذَا
صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا، [لَا يَقْطَعُ
الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ".
“ Jika salah seorang dari kalian shalat , maka
menghadaplah ke sutrah , lalu mendekatlah darinya , agar syaitan tidak
memutuskan sholatnya “.
( HR. Abu Dawud no. 698, Ibnu Majah no. 954 .
Dan apa yang tertulis di antara dua kurung [ ] itu
tambahan dari Ibn Khuzaymah no. (803, 840), dan al-Hakim no. (922) dari hadits
Sahl bin Abi Hatsmah RA. Dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam " صحيح الجامع '" no. (641, 650).
DALIL KE 3 :
“Dari Abu Dzarr al-Ghifaari dia berkata ;
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا قامَ أحَدُكُمْ يُصَلِّي،
فإنَّه يَسْتُرُهُ إذا كانَ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ، فإذا لَمْ
يَكُنْ بيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ، فإنَّه يَقْطَعُ صَلاتَهُ
الحِمارُ، والْمَرْأَةُ، والْكَلْبُ الأسْوَدُ.
قُلتُ: يا أبا ذَرٍّ، ما بالُ
الكَلْبِ الأسْوَدِ مِنَ الكَلْبِ الأحْمَرِ مِنَ الكَلْبِ الأصْفَرِ؟ قالَ: يا
ابْنَ أخِي، سَأَلْتُ رَسولَ اللهِ ﷺ كما سَأَلْتَنِي فقالَ: الكَلْبُ الأسْوَدُ
شيطانٌ.
"Apabila salah seorang dari kalian hendak
shalat, sebaiknya kamu membuat sutrah (penghalang) di hadapannya yang berbentuk
seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, apabila di hadapannya
tidak ada sutrah seperti kayu yang diletakkan diatas hewan tunggangan, maka
shalatnya akan terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam.'
Aku bertanya, 'Wahai Abu Dzarr : “ apa perbedaan
anjing hitam dari anjing merah dan kuning?”.
Dia menjawab : 'Aku pernah pula menanyakan hal itu
kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana
kamu menanyakannya kepadaku, maka jawab beliau, 'Anjing hitam itu
setan'."(HR. Muslim no. 510 )
DALIL KE 4 :
Dari 'Aun bin Abi Juhaifah dari Ayahnya :
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى
بِهِمْ بِالْبَطْحَاءِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ
وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ يَمُرُّ خَلْفَ الْعَنَزَةِ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ
“Bahwasanya Nabi ﷺ pernah
mengerjakan shalat bersama mereka di Bathha`, sementara di depan beliau
ditancapkan sebuah tombak kecil, beliau mengerjakan shalat Zhuhur dua rakaat
dan Ashar dua rakaat, dan di belakang tombak kecil itu lewat seorang wanita dan
seekor keledai “. (HR Bukhari no. 495 dan Abu Daud No. 590 )
MAKNA : ( BATHAA’ / بَطْحاءُ ) , itu muannats . Mudzakarnya ( أَبْطَحُ ) , jamak
mudzakkarnya (أباطِحُ dan بِطاح) . Dan Jamak untuk Mu’annats nya ( بَطْحَاوات dan بِطاح).
أَرْضٌ مُنْبَسِطَةٌ فَسِيحَةُ الأَرْجَاءِ،
يَسِيلُ فِيهَا المَاءُ تَارِكًا فِيهَا الرَّمْلَ وَصِغَارَ الحَصَى
Artinya : Tanah datar dan luas ke semua penjuru, di
mana kadang air mengalir, meninggalkan pasir dan kerikil kecil di dalamnya.
DALIL KE 5 :
Dari 'Aisyah ia berkata :
كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ
حَصِيرٌ يُبْسَطُ بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهُ بِاللَّيْلِ يُصَلِّي إِلَيْهِ
"Rasulullah ﷺ mempunyai
tikar yang dibentangkan di siang hari, dan menggulungnya (seperti batu) di
malam hari, lalu shalat menghadap ke arahnya. " ( HR. Ibnu Majah no. 932 )
Dalam lafadz Bukhory : Dari 'Aisyah :
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ لَهُ
حَصِيرٌ يَبْسُطُهُ بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهُ بِاللَّيْلِ فَثَابَ إِلَيْهِ
نَاسٌ فَصَلَّوْا وَرَاءَهُ
bahwa Nabi ﷺ memiliki
tikar yang di waktu siang digelar, sedang pada waktu malam menggulungnya
(seperti batu) . Maka orang-orang berkumpul di malam hari menghadapnya lalu
mereka shalat di belakangnya ". ( HR. Bukhori no. 688 )
0 Komentar